Senin, 13 April 2015

Cerpen Cerpennan

PUKUL SEMBILAN
Lelaki yang di seberang sana itu, memakai pakaian seperti yang kukenakan saat ini. Mungkin dia copet juga. Masa semua copet berpakaian sepertiku? Tapi pakaian yang dikenakannya itu terlihat mahal. Mungkin yang dikenakannya itu jaket kulit asli, dan sepatu kulit asli. Kacamata hitamnya sepertinya mahal. Aku memandangi bayangan diriku di kaca etalase toko buku di dekatku. Pakaian hitam-hitamku terlihat lusuh. Kalau dipikir-pikir, aku cantik juga. Cantik dan liar.
Melalui kaca, kulirik lelaki tadi. Ia masih berdiri di sana. Apa yang ada dalam ranselnya itu, ya? Lelaki itu terlihat misterius. Sepertinya ia akan melakukan transaksi nark*ba. Entah nark*ba atau uang tunai yang ada dalam ransel itu. Kelihatannya isinya banyak. Lelaki itu terlihat gelisah juga. Dan kegelisahannya bertambah saat ia mendongakkan kepalanya ke arah jam besar di arah barat laut.
Jarum panjang menunjuk angka 8 dan jarum pendek berada di antara angka 8 dan 9.
Jalanan masih ramai. Beberapa toko sudah mulai tutup dan lampu-lampu dimatikan. Lorong-lorong gelap masih dilewati para turis. Mungkin lima atau sepuluh menit lagi gang-gang sempit akan sepi. Saat itulah aku akan mengambil ranselnya.
Sekarang.
Aku memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaket kulit tiruanku dan berjalan menyeberangi jalan. Aku berjalan dengan cepat, seperti orang-orang lain yang bergegas ingin pulang, ke arah lelaki tadi. Ia sedang menatap ke arah lain. Keberadaanku tak disadarinya.
Jalanan mulai benar-benar lengang sekarang. Gang-gang sempit sudah dapat dipastikan sama kosongnya dengan kaleng yang kosong. Aku tidak pandai membuat perumpamaan.
Aku mempercepat langkah dan dua detik kemudian ransel itu sudah berpindah tempat dari pundak lelaki itu ke tangan kiriku. Aku memasang ransel di pundakku dan lari secepat-cepatnya.
“Hey! Kembalikan tasku!” Teriak lelaki tadi.
Lelaki itu mengejarku. Rambut panjangku berkibaran saat aku lari, aku menyesal tidak menguncirnya tadi.
“Berhentilah! Berhenti… dan kembalikan tas itu! Jangan sampai kau menyesal!” Teriaknya. Suara langkah kakinya terdengar dekat di belakangku.
Aku berbelok ke sebuah gang kecil dan masuk ke gang yang lebih kecil lagi.
“Perempuan, berhenti!” Suara lelaki itu menggema di lorong. “Isi tas itu bisa membahayakanmu!”
“Memangnya apa isinya?!” Teriakku.
“Aku tidak bisa bilang. Kembalikan sajalah!” Ujarnya.
Tidak. Berbicara ternyata memperlambat lariku. Ia sekarang bisa mengejarku, mungkin posisinya sekarang hanya 4 meter di belakangku.
“Isinya bom! Berhentila…h.” Ia berhenti dan mencoba mengatur napasnya. “Kusarankan kau berhenti.”
Aku tidak berhenti, tapi memperlambat lariku. Kenapa ia berhenti?
Teng… Teng… Teng…
Jam besar mendentangkan loncengnya, pertanda sekarang sudah pukul 9 malam. Aku mendengar lelaki tadi berlari lari, tapi ke arah berlawanan. Ia kembali ke mulut gang, menuju pusat kota yang sepi.
Entah karena dorongan apa, aku meninggalkan ransel itu di jalan. Aku berlari menyusuri gang dengan cepat, meninggalkan ransel itu. Dua menit kemudian, aku tiba di ujung gang tepat saat sebuah ledakan terjadi di dalam gang sana.
Aku merasakan dinding-dinding gang bergetar dan getarannya merambat sampai ke tanah di bawah kakiku. Kejadiannya sangat cepat. Lariku tidak cukup cepat untuk meninggalkan wilayah rambatan ledakan sehingga aku terlempar jauh sekali akibat ledakan itu.
Aku terlempar sampai ke tepi sungai, sebagian kakiku sudah berada di air, dan aku tidak bisa bergerak. Api melalap bangunan di dekat gang. Aku belum pernah merasakan ledakan bom sebelumnya, dan aku yakin bom yang tadi meledak itu tidak ada apa-apanya. Tapi bom itu bisa membunuhku jika aku berada dekat dengannya. Apa lelaki tadi mau bunuh diri?
Tenggorokanku terasa perih dan kering. Aku merasa sangat haus, tapi tidak bisa bergerak. Aku memejamkan mataku dan perlahan-lahan ketidaksadaran mulai menyapaku. Aku tidak percaya aku baru saja membawa ransel berisi bom. Aku bisa saja mati.
Kalau saja lelaki itu tidak memberitahuku.
Cerpen Karangan: Yuni Yustikasari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar